Skip to main content

Selasa, 07 September 2021.


Image https://goodnewsshareddotfilesdotwordpressdotcom/2017/01/god-gives-restdotjpg?w=640

Apakah perhentian saya didasari rasa aman duniawi saya ?

Apakah saya pemelihara hari perhentian sabat, hari ke tujuh yg sesungguhnya menempatkan diri sendiri jadi idola yang saya sembah ?

Pesan-pesan datang kepada kita dari para hamba Yesus. Peringatan diberikan untuk membangunkan orang-orang dari rasa aman duniawi mereka, dan mereka didorong untuk memeriksa iman dan harapan mereka sendiri untuk melihat apakah itu sesuai dengan Firman Tuhan. 

Peringatan itu ditujukan kepada orang-orang, “Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah.” [Roma 11:20.] Paulus menulis kepada orang-orang Ibrani, “Karena itu marilah kita takut, jangan sampai kita ditinggalkan oleh suatu janji untuk memasuki perhentian-Nya, ada di antara kamu yang tampaknya mengingkarinya.” [Ibrani 4:1.] 

“Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” [Roma 8:13.] 

Hidup menurut daging berarti membiarkan selera dan nafsu daging menguasai kita, membiarkan lidah dan selera kita berjalan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan dunia yang tidak percaya. 

Diri adalah idola yang kita sembah. “Di antara mereka juga kita semua memiliki percakapan di masa lalu dalam keinginan daging kita, memenuhi keinginan daging dan pikiran; dan pada dasarnya adalah anak-anak murka, sama seperti orang lain.” [Efesus 2:3.] {Lt38-1893.12}

Messages are coming to us from the servants of Jesus. Warnings are given to awaken the people from their carnal security, and they are exhorted to examine their own faith and hope to see if it is in accordance with the Word of God. The warning is addressed to the people, “Be not high-minded, but fear.” [Romans 11:20.] Paul writes to the Hebrews, “Let us therefore fear, lest a promise being left us of entering into his rest, any of you should seem to come short of it.” [Hebrews 4:1.] “For if ye live after the flesh, ye shall die: but if ye through the Spirit do mortify the deeds of the body, ye shall live.” [Romans 8:13.] To live after the flesh is to allow the appetites and passions of the flesh to rule us, to let our tongues and our tastes run in the same way as do those of the unbelieving world. Self is the idol we worship. “Among whom also we all had our conversation in times past in the lusts of our flesh, fulfilling the desires of the flesh and of the mind; and were by nature the children of wrath, even as others.” [Ephesians 2:3.] {Lt38-1893.12}



Comments

Popular posts from this blog

Kamis, 16 September 2021

Youtube Thumbnail Image https://wwwdotrainbowtokendotcom/wp-content/uploads/2017/11/The-Lord-Jesus-Christ-Is-God-Himselfdotjpg Peliharalah dirimu dalam kasih Allah, mencari rahmat Tuhan kita Yesus Kristus untuk hidup yang kekal. Juli 21. {FH 344.1} Mereka yang mendengar dari bibir Kristus kata-kata, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia,” akan menjadi pelayan kebenaran yang heroik. Mereka mungkin tidak pernah mengkhotbahkan khotbah dari mimbar,  tetapi setia pada rasa tuntutan Tuhan atas mereka dan cemburu akan kehormatan-Nya, mereka akan melayani jiwa-jiwa yang dibeli dengan darah Kristus. Mereka akan melihat perlunya membawa ke dalam pekerjaan mereka pikiran yang rela,  semangat yang sungguh-sungguh, dan semangat yang tulus dan tidak mementingkan diri. Mereka tidak akan mempelajari cara terbaik untuk mempertahankan martabat mereka sendiri, tetapi dengan perhatian dan perhatian akan berusaha untuk memenangkan hati orang-orang yang mereka layani.... {FH 344.2} Rasul Paulus ...

Senin, 13 Desember 2021

“Allah tidak memihak” (Galatia 2:6, RSV), kata Paulus, “Injil ...adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya; kepada orang Yahudi terlebih dahulu, dan juga kepada orang Yunani. Karena di situlah kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman: seperti ada tertulis: Orang benar akan hidup oleh iman.” Injil ini sama-sama berguna bagi orang Yahudi dan bukan Yahudi. {TT 198.6} “God shows no partiality” (Galatians 2:6, RSV), declares Paul, “The gospel ... is the power of God unto salvation to everyone that believeth; to the Jew first, and also to the Greek. For therein is the righteousness of God revealed from faith to faith: as it is written, The just shall live by faith.” This gospel is equally efficacious for Jew and Gentile. {TT 198.6}

Rabu, 19 Mei 2021. Stabilitas Hukum Tuhan

Betapa sering saya yang sehat melupakan belas kasihan yang luar biasa yang diteruskan kepada saya hari demi hari, tahun demi tahun, saya tidak memberikan penghargaan kepada Tuhan atas semua manfaat-Nya. Tetapi ketika penyakit datang, saya baru ingat Tuhan, baru 'baik-baik' sama Tuhan ? Dan saya wajib ingat, saat Tuhan memberikan kesembuhan kpd saya dari penyakit saya berada di bawah kewajiban yang diperbarui kepada Pencipta ? Ketika kesepuluh penderita kusta itu sembuh, hanya satu yang kembali untuk menemukan Yesus dan memuliakan-Nya. Janganlah saya menjadi seperti sembilan orang yang tidak berpikir, yang hatinya tidak tersentuh oleh belas kasihan Tuhan ? Sudahkah saya menjaga stabilitas hukum (kesehatan) Tuhan ? Yak. 1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. “Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan.” Apakah ada di antara kita yang be...