Komitmen macam apa sesungguhnya yang saya praktekkan dalam melayani TUHAN ?
Tahukah saya, pelayanan yang rela dan penuh penyangkalan diri jadi hal yang langka ? sebaliknya semangat macam apa justru yang tersebar luas ?
Tahukah saya, pengabdian yang tidak mementingkan diri dan semangat pengorbanan selalu dan akan selalu menjadi syarat utama dari pelayanan yang dapat diterima ? (gantinya dari sikap keegoisan, semangat ketamakan, mencari posisi tertinggi dan upah tertinggi ?)
Sudahkah saya mempraktekkan pengabdian yang tidak mementingkan diri dan semangat pengorbanan sebagai bentuk nyata sebuah komitmen ?
Matius 4:
19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
Perbedaan semangat dan motif terlihat mencolok antara orang-orang yang membangun kemah di padang gurun, dan mereka yang terlibat dalam pembangunan bait suci Sulaiman, menjadi pelajaran yang sangat penting.
Berpusat pada diri menjadi ciri para pekerja di bait suci menemukan kesamaannya saat ini dalam keegoisan yang menguasai dunia.
Semangat ketamakan, mencari posisi tertinggi dan upah tertinggi, tersebar luas.
Pelayanan yang rela dan penyangkalan diri yang menggembirakan dari para pekerja tabernakel jarang ditemui.
Tapi inilah satu-satunya roh yang menggerakkan pengikut Yesus.
Guru ilahi kita telah memberikan contoh tentang bagaimana para murid-Nya bekerja.
Kepada mereka Dia perintahkan, “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia” (Matius 4:19), Dia tidak menawarkan jumlah yang dinyatakan sebagai hadiah atas jasa mereka.
Mereka harus berbagi dengan-Nya dalam penyangkalan diri dan pengorbanan. {PK 64.3}
Bukan untuk upah yang kita terima, kita bekerja.
Motif yang mendorong kita untuk bekerja bagi Tuhan seharusnya tidak ada hubungannya dengan melayani diri sendiri.
Pengabdian yang tidak mementingkan diri dan semangat pengorbanan selalu dan akan selalu menjadi syarat utama dari pelayanan yang dapat diterima.
Tuhan dan Guru kita merancang bahwa tidak ada satu benang pun keegoisan yang dijalin ke dalam pekerjaan-Nya.
Dalam upaya kita, kita harus membawa kebijaksanaan dan keterampilan, ketepatan dan kebijaksanaan, yang dituntut oleh Allah kesempurnaan dari para pembangun kemah duniawi;
namun dalam semua pekerjaan kita, kita harus ingat bahwa bakat terbesar atau pelayanan yang paling indah hanya dapat diterima ketika diri diletakkan di atas altar, pengorbanan yang hidup dan berterima {PK 65.1}
Tulisan aslinya :
The sharp contrast between the spirit and motives of the people building the wilderness tabernacle, and of those engaged in erecting Solomon’s temple, has a lesson of deep significance. The self-seeking that characterized the workers on the temple finds its counterpart today in the selfishness that rules in the world. The spirit of covetousness, of seeking for the highest position and the highest wage, is rife. The willing service and joyous self-denial of the tabernacle workers is seldom met with. But this is the only spirit that should actuate the followers of Jesus. Our divine Master has given an example of how His disciples are to work. To those whom He bade, “Follow Me, and I will make you fishers of men” (Matthew 4:19), He offered no stated sum as a reward for their services. They were to share with Him in self-denial and sacrifice. {PK 64.3}
Not for the wages we receive are we to labor. The motive that prompts us to work for God should have in it nothing akin to self-serving. Unselfish devotion and a spirit of sacrifice have always been and always will be the first requisite of acceptable service. Our Lord and Master designs that not one thread of selfishness shall be woven into His work. Into our efforts we are to bring the tact and skill, the exactitude and wisdom, that the God of perfection required of the builders of the earthly tabernacle; yet in all our labors we are to remember that the greatest talents or the most splendid services are acceptable only when self is laid upon the altar, a living, consuming sacrifice. {PK 65.1}

Comments
Post a Comment