Sudahkah saya, yang mengaku umat TUHAN, bekerja keras, gigih untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang, untuk merebut mereka, keluar dari api kebinasaan ?
Tahukah saya, jika saya melayani TUHAN dgn sikap lesu dan tidakefisien, itu tanda saya sesungguhnya bukan orang yang saleh ?
Sudahkah saya sampai tingkat terpesona dlm melakukan pekerjaanNYA ? atau justru merasa bosan ?
Dalam setiap pelayanan, saya harus bertanya dalam diri, apakah ini jalan Tuhan? apakah saya, dalam roh, perkataan dan tindakan, selaras dengan kehendak-Nya? "
Saat saya melakukan semua ini sesuai perintahNya, saya sesungguhnya sdg meneriakkan seruan terakhir Allah bagi dunia ?
Wahyu18:4 Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.
“Bersiaplah untuk bertemu Tuhanmu” adalah pekabaran yang ingin kita wartakan di mana-mana.
Terompet berguna untuk mengeluarkan suara tertentu.
Peringatan yang jelas berbunyi: "Babilon besar telah jatuh, telah jatuh .... Keluarlah darinya umat-Ku, agar kamu tidak mengambil bagian dari dosa-dosanya, dan agar kamu tidak menerima tulah-nya." Wahyu 18: 2-4.
Kata-kata dari tulisan suci ini harus digenapi.
Segera ujian terakhir akan datang ke semua penghuni bumi.
Pada saat itu keputusan yang cepat akan dibuat.
Mereka yang telah diyakinkan oleh penyampaian kata2 tersebut akan berada di bawah panji Pangeran Immanuel yang berlumuran darah.
Mereka akan melihat dan memahami seperti sebelumnya mereka telah kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan hal baik yang seharusnya mereka bisa lakukan.
Mereka menyadari bahwa mereka tidak bekerja sekeras yang seharusnya, untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang, untuk merebut mereka, keluar dari api. {9T 149,2}
Pelayan2 Tuhan harus "tidak malas dalam berusaha; harus bersemangat melayani Tuhan. "
Kelesuan dan ketidakefisienan bukanlah bentuk kesalehan.
Ketika kita menyadari bahwa kita bekerja untuk Tuhan kita akan memiliki pengertian yang lebih tinggi dari yang pernah kita miliki sebelumnya tentang kesucian pelayanan spiritual.
Kesadaran ini akan menempatkan kehidupan dan kewaspadaan serta energi yang gigih dalam pelaksanaan setiap tugas. {9T 150.1}
Pekerjaan kita telah dipercayakan untuk kita oleh Bapa surgawi. Kita harus mengambil Alkitab kita dan pergi untuk memperingatkan dunia.
Kita harus menjadi uluran tangan Tuhan dalam menyelamatkan jiwa — saluran yang melaluinya kasih-Nya setiap hari mengalir menuju yang binasa.
Terwujudnya pekerjaan besar di mana dia memiliki hak istimewa untuk mengambil bagian, memuliakan dan menguduskan pekerja sejati.
Dia dipenuhi dengan iman yang bekerja dengan cinta dan memurnikan jiwa. Tidak ada yang membosankan bagi orang yang tunduk pada kehendak Tuhan.
“Melakukannya untuk Tuhan” adalah sebuah pemikiran yang memberikan pesona atas pekerjaan apapun yang Tuhan berikan kepadanya untuk dilakukan. {9T 150,3}
Lanjutkan semua pekerjaanmu dengan prinsip-prinsip agama yang ketat.
Biarkan pertanyaan tulusmu : "Apa yang dapat saya lakukan untuk menyenangkan Guru?"
Kunjungi tempat-tempat di mana orang percaya membutuhkan dorongan dan bantuan.
Pada setiap langkah tanyakan: “Apakah ini jalan Tuhan? Apakah saya, dalam roh, dalam perkataan, dalam tindakan, selaras dengan kehendak-Nya? ”
Jika engkau bekerja untuk Tuhan dengan pandangan tertuju pada kemuliaan-Nya, pekerjaanmu akan menghasilkan cetakan ilahi, dan engkau akan melaksanakan maksud-tujuan Tuhan. {9T 150,4}
Tulisan aslinya :
“Prepare to meet thy God” is the message we are everywhere to proclaim. The trumpet is to give a certain sound. Clearly and distinctly the warning is to ring out: “Babylon the great is fallen, is fallen.... Come out of her, My people, that ye be not partakers of her sins, and that ye receive not of her plagues.” Revelation 18:2-4. The words of this scripture are to be fulfilled. Soon the last test is to come to all the inhabitants of the earth. At that time prompt decisions will be made. Those who have been convicted under the presentation of the word will range themselves under the blood-stained banner of Prince Immanuel. They will see and understand as never before they have missed many opportunities for doing the good they ought to have done. They will realize that they have not worked as zealously as they should, to seek and save the lost, to snatch them, as it were, out of the fire. {9T 149.2}
God’s servants are to be “not slothful in business; fervent in spirit; serving the Lord.” Listlessness and inefficiency are not piety. When we realize that we are working for God we shall have a higher sense than we have ever had before of the sacredness of spiritual service. This realization will put life and vigilance and persevering energy into the discharge of every duty. {9T 150.1}
Our work has been marked out for us by our heavenly Father. We are to take our Bibles and go forth to warn the world. We are to be God’s helping hands in saving souls—channels through which His love is day by day to flow to the perishing. The realization of the great work in which he has the privilege of taking part, ennobles and sanctifies the true worker. He is filled with the faith that works by love and purifies the soul. Nothing is drudgery to the one who submits to the will of God. “Doing it unto the Lord” is a thought that throws a charm over whatever work God gives him to do. {9T 150.3}
Carry on all your work on strictly religious principles. Let your earnest inquiry be: “What can I do to please the Master?” Visit places where the believers need encouragement and help. At every step ask: “Is this the way of the Lord? Am I, in spirit, in word, in action, in harmony with His will?” If you labor for God with an eye single to His glory, your work will bear the divine mold, and you will be carrying out the Lord’s purposes. {9T 150.4}

Comments
Post a Comment