Tahukah saya pentingnya Kristus tinggal di dalam diri orang yang memberitakan kebenaran ?
Apakah saya yang suka berda'wah ternyata memiliki kekurangan yang mencolok dalam pemahaman tentang Kitab Suci ?
Apakah saya sebagai pembicara firman justru bertanggung jawab atas hilangnya jiwa orang yang mendengar ?
Sudahkah dengan mempelajari Firman Allah sampai hari ini saya telah bermanfaat positif bagi para pencari kebenaran utk menuntun mereka kepada Yesus Kristus ?
2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Kita memiliki pelayanan yang kerdil dan cacat.
Jika Kristus tidak tinggal di dalam diri orang yang memberitakan kebenaran, mereka akan menurunkan standar moral dan agama di mana pun mereka bersikap toleran.
Satu contoh diberikan kepada mereka, bahkan Kristus. “Semua Kitab Suci diberikan oleh ilham Allah, dan bermanfaat untuk doktrin, teguran, koreksi, untuk instruksi dalam kebenaran: agar abdi Allah boleh sempurna, diperlengkapi secara menyeluruh untuk semua pekerjaan baik.”
Di dalam Alkitab kita memiliki nasihat Tuhan yang tepat.
Ajaran-ajarannya, yang dilaksanakan secara praktis, akan cocok untuk manusia untuk setiap posisi tugas.
Itu adalah suara Tuhan yang berbicara setiap hari kepada jiwa.
Betapa hati-hati anak muda mempelajari Firman Tuhan dan menyimpan perasaannya di dalam hati, sehingga ajarannya dapat dibuat untuk mengatur seluruh tingkah laku.
Para pelayan Tuhan yang muda, serta mereka yang telah beberapa lama mengabarkan, menunjukkan kekurangan yang mencolok dalam pemahaman mereka tentang Kitab Suci.
Pekerjaan Roh Kudus adalah menerangi pemahaman yang gelap, meluluhkan hati yang egois dan membatu, untuk menaklukkan pelanggar yang memberontak, dan menyelamatkannya dari pengaruh dunia yang merusak.
Doa Kristus bagi murid-murid-Nya adalah: "Sucikan mereka melalui kebenaran-Mu: Firman-Mu adalah kebenaran."
Pedang Roh, yaitu Firman Tuhan, menembus hati orang berdosa dan memotongnya.
Ketika kebenaran disampaikan tanpa pengaruh sakral yang dirasakan pada jiwa pembicara, itu tidak memiliki kekuatan pada pendengarnya, tetapi ditolak sebagai kesalahan,
pembicara membuat dirinya bertanggung jawab atas hilangnya jiwa.
Tulisan aslinya :
We have a dwarfed and defective ministry. Unless Christ shall abide in the men who preach the truth, they will lower the moral and religious standard wherever they are tolerated. One example is given them, even Christ. “All Scripture is given by inspiration of God, and is profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness: that the man of God may be perfect, thoroughly furnished unto all good works.” In the Bible we have the unerring counsel of God. Its teachings, practically carried out, will fit men for any position of duty. It is the voice of God speaking every day to the soul. How carefully should the young study the Word of God and treasure up its sentiments in the heart, that its precepts may be made to govern the whole conduct. Our young ministers, and those who have been some time preaching, show a marked deficiency in their understanding of the Scriptures. The work of the Holy Spirit is to enlighten the darkened understanding, to melt the selfish, stony heart, to subdue the rebellious transgressor, and save him from the corrupting influences of the world. The prayer of Christ for His disciples was: “Sanctify them through Thy truth: Thy word is truth.” The sword of the Spirit, which is the Word of God, pierces the heart of the sinner and cuts it in pieces. When the theory of the truth is repeated without its sacred influence being felt upon the soul of the speaker, it has no force upon the hearers, but is rejected as error, the speaker making himself responsible for the loss of souls.—Testimonies for the Church 4:441. {PaM 22.3}

Comments
Post a Comment